It is More Nice To be Important But It is More Important To be Nice

Senin, 16 November 2009

Pola Pendidikan TK Jangan Memberatkan

Pola Pendidikan TK Jangan Memberatkan
By Republika Newsroom
Jumat, 06 November 2009 pukul 16:58:00

Pola Pendidikan TK Jangan MemberatkanDOK REPUBLIKA

MODAL: Pendidikan non formal pada usia dini efektir bekali anak untuk menerima pendidikan formal di sekolah dasar

JAKARTA--Mengacu kepada surat edaran yang dikeluarkan oleh Dirjen Pendidikan Dasar Menengah Departemen Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, pengelolaan pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) harus berprinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain.

Menanggapi surat edaran tersebut, Sudin Pendidikan Dasar (Dikdas) Jakarta Pusat menganjurkan supaya pendidikan di TK lebih berfokus kepada pendekatan baca, tulis dan hitung (calistung), tetapi harus disesuaikan dengan perkembangan anak.

"Ini sangat penting, jangan sampai anak mendapatkan beban besar oleh pola pendidikan yang tidak mengacu pada prinsip belajar sambil bermain, belajar seraya bermain. Jadi tidak diperkenankan metode calistung diterapkan secara langsung. Melainkan, diberikan melalui pendekatan bermain sesuai dengan perkembangan anak,” jelas Kasudin Dikdas Jakpus, Zaenal Soleman saat menerima kunjungan kerja Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI) DKI Jakarta, Jumat (6/11).

Jika seorang anak terlalu banyak dijejali setumpuk materi pelajaran ketika masih berada di bangku TK, Zaenal menambahkan, maka ada kecenderungan anak tersebut akan menemui kegagalan ketika memasuki sekolah dasar (SD). “Anak tersebut akan merasa bosan karena terlalu sering dijejali materi pelajaran. Seharusnya, anak usia 4-6 tahun yang lebih dibutuhkan adalah bermain dan sosialisasi lingkungannya,” tutur Zaenal.

Zaenal juga menegaskan, mengenai pengenalan bahasa asing di bangku TK, sebaiknya perlu dipertimbangkan lebih seksama lagi. Pengenalan bahasa asing sepatutnya dilakukan secara alamiah, sehingga tidak perlu dilakukan ketika dalam kurikulum pembelajaran di kelas. Mengenal bahasa asing, imbuh Zaenal, hendaknya hanya bersifat pengenalan kosa kata saja. "Upayakan juga tidak membuat anak mengurangi kecintaannya terhadap bahasa Indonesia atau bahasa ibu, serta tidak bermaksud mencari prestise saja," sarannya.

Terkait kegiatan seremonial-seremonial tidak penting yang biasa dilakukan oleh yayasan atau pengelola TK, Zaenal mengimbau, supaya ke depannya tidak perlu diadakan lagi. Misalnya, perpisahan kelas atau seremoni wisuda kelulusan anak dari TK menuju SD. “Kegiatan semacam itu hanyalah untuk mencari prestise orangtua murid dan pengelola TK saja,” cetusanya.

Di Jakarta Pusat, dikatakan Zaenal, saat ini tercatat sebanyak 218 TK, yang terdiri atas, 214 TK milik swasta dan 4 TK milik pemerintah. Sedangkan berbicara tenaga pengajar di TK, menurutnya terdapat 91 orang berstatus PNS, 105 orang guru bantu, serta 3 orang berstatus swasta murni. c08/rin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Loading...